Monday, December 26, 2011

Kepergian penulis Lan Fang :25 Dec. 2011

SURABAYA, KOMPAS.com -- Lan Fang, penulis asal Surabaya, Jawa Timur, meninggal dunia, Minggu (25/12/2011) di Singapura. Selama beberapa waktu terakhir, penulis produktif itu menderita sakit.
Pertengahan November 2011, mengeluh sangat lemas. Ia dilarikan ke rumah sakit di Surabaya. Karena tidak ada perkembangan berarti, ia dibawa ke RS Mount Elizabeth, Singapura. Namun, akhirnya ia berpulang pada Minggu siang.
Lan Fang lahir di Banjarmasin, 5 Maret 1970. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Surabaya. Namun, ia lebih menekuni dunia prosa dibandingkan melakoni karir di bidang hukum.
Ia juga aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif. Secara rutin, ia menularkan kemampuan menulis fiksi kepada pelajar di berbagai sekolah di Surabaya.
Sebagai penulis, Lan Fang menjadi nominee Khatulistiwa Award 2008 untuk novelnya, Lelakon. Cerpen-cerpennya masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.
Cerita bersambung buah tangan Lan Fang, Ciuman Di Bawah Hujan, dimuat di harian Kompas tahun 2009. Gramedia Pustaka Utama menerbitkannya sebagai novel dengan judul yang sama pada Maret 2010.
Ia juga telah melahirkan berbagai karya, antara lain Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun(2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007).

CERPEN "Ciuman di Bawah Hujan"

Tato
Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Biasanya setiap hari langit akan berwarna abu-abu lalu memuntahkan biji-biji air. Jalanan akan basah, banjir, dan macet terjadi di mana-mana. Aku tidak mengerti kenapa Lin begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah, pikirku sambil memandang kanvas besar di hadapanku.

Aku merasa kanvas besar ini lebih menarik daripada abu-abu yang tergantung di langit. Abu-abu? Hei, mendadak aku merasa perlu untuk menyakinkan kalau langit memang sedang berwarna abu-abu. Aku melemparkan pandangan keluar jendela dan ternyata langit memang sedang abu-abu. Tiba-tiba aku teringat sekujur novel Lin yang terbaru. Ciuman di Bawah Hujan, judulnya. Cukup menarik tetapi kenapa begitu abu-abu?

Lin

Aku mempercepat laju motorku. Angin menabrak dadaku. Aku mengetatkan geraham menahan rasa yang asing. Bukan rasa gigil. Tetapi dadaku seakan terbakar sampai bolong. Padahal aku tidak merokok. Mungkin panaslah yang akan kita rasakan jika terlalu kedinginan. Misalnya, seperti saat kita menggenggam es batu.

Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Aku yakin sebentar lagi pasti turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpaku setitik demi setitik. Motor pun semakin kupacu. Aku tidak mau basah kuyup di jalanan. Terbayang secangkir teh sepat panas di studio lukis Tato. Pasti hangatnya melegakan dada. Aku pun membayangkan diriku sedang flu kemudian seseorang mengosokkan balsam ke dadaku. Seseorang yang menurut Tato terlalu abu-abu: Rafi.

Tato

Bulan sudah menyembul. Tetapi tidak lama karena jarum-jarum perak telah dicucurkan langit. Curahnya rapat sampai tampak seperti tirai yang selalu patah bila disibakkan.

Aneh, Lin belum datang juga. Padahal Lin paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisanku padanya.

''Merah?!'' seru Lin ketika kuceritakan lukisanku berwarna merah. ''Apakah kau tidak mempunyai pilihan warna lain? Karena aku sudah terlalu akrab dengan merah. Tiang-tiang di kelenteng, tubuh naga, ikan koi, bunga peony, baju baru ketika perayaan Imlek, angpau, lampion, semua itu merah...'' Suaranya terdengar mengambang.

''Tetapi ini merah yang lain, Lin.''

Aku memang tidak melukis semua yang disebut Lin. Tidak ada tiang-tiang kelenteng, tubuh naga, baju merah, angpau atau lampion di atas kanvasku. Yang ada hanya merah. Aku mengambil kuas dan menambahkan merahnya. Aku masih menunggu Lin.

Lin

Tato pasti sedang menungguku. Semoga saja ia tidak kesal karena keterlambatanku. Aku sedang mengalami sedikit masalah di jalan. Hujan membuat jalanan terlalu licin untuk diriku yang sedang ditunggu. Dan entah ke mana sinar bulan. Ups, motorku...

Kemarin Tato memberi tahu tentang lukisannya yang hampir selesai. Lukisan merah yang disiapkannya untuk kami. Maksudku, lukisan merah itu disiapkan Tato untuk pameran lukisannya sekaligus terinspirasi dari novel terbaruku yang berjudul Ciuman di Bawah Hujan.

Tetapi kenapa harus merah?

''Aku ingin warna lain,'' cetusku.

''Abu-abu?'' tanyanya dengan nada yang sangat datar sehingga aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.

Oh, aku tidak mengerti kenapa kami jadi berdebat mengenai warna. Mungkin warna dan segala ronanya bukan masalah bagi pelukis seperti Tato. Setiap hari ia bergumul dengan warna. Tetapi berbicara tentang warna selalu membuatku mulas. Rasanya seperti sedang membicarakan warna bendera partai politik saja. Atau warna kaos kampanye.

Aku jadi teringat kepada seorang rahib Buddha Tantra dari Taiwan. Ia selalu mengibarkan bendera panca warna: merah, biru, hijau, kuning dan putih secara berjajar. Menurutnya, semua kuil-kuil di Taiwan, Tibet, Nepal dan sebagian India, selalu mengibarkan bendera panca warna itu. Dari suara yang ditimbulkan kelepak sayap bendera-bendera itu, kita bisa mendengar kabar berita yang dibawa angin dari seluruh penjuru. Nah, bukankah sebenarnya banyak warna menjadikan hidup lebih kaya?

''Bagaimana kalau cokelat saja? Cokelat rasanya lebih nyaman,'' akhirnya kupilih sebuah warna sebelum mulasku menjadi-jadi. ''Cokelat warna kayu...''

''Juga warna daun layu...,'' potongnya.

Tetapi kenapa tiba-tiba aku semakin merah?

Tato

Curah dari langit semakin bertubi. Tetes-tetesnya seperti berlomba lari dari atap. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya warna hujan? Bening? Lalu bagaimana kebeningan itu harus kulukiskan ke atas kanvas?

''Sinar mata Rafi bening sekali, Tato! Seperti bulan...'' seru Lin. ''Rafi pernah menatapku lama sekali. Aku juga menatapnya. Tahukah kau seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani cinta!''

Lalu ia menyanyi dengan suara sumbangnya yang merusak telingaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti. Tetapi ternyata lagunya syahdu sekali.

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing ye zhen

Wo de ai ye zhen

Yue liang dai biao wo de xin

''Itu lagu Teng Lie Chin, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin,'' ia menjelaskan tanpa kuminta dengan pipi berhiaskan merah yang menjadi-jadi.

Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Rafi seperti Shah Rukh Khan, bintang film India tersohor itu. Dan pujiannya meluncur deras seperti hujan ketika menceritakan Shah Rukh Khan saat mem­bintangi Kuch Kuch Hotta Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Asokh sampai Devdas.

Olala, aku tidak menyangka novelis seperti Lin ternyata penggemar film India. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya Lin sedang jatuh cinta kepada Rafi atau Shah Rukh Khan?

Tetapi kepada siapa pun ia jatuh cinta, rupanya Lin sedang membawa warna merah muda.

Lin

''Kau gila!'' kata Tato saat kukatakan bahwa diriku jatuh cinta kepada Rafi karena ia secokelat Shah Rukh Khan. Menurutnya, aku lebih pantas menggilai Andy Lau, Chow Yun Fa, atau Jet Lee saja.

Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku hanya melihat warna cokelat ketika bersisian dengan Rafi. Ia meletakkan lengannya di atas meja sehingga bisa kulihat dengan jelas kuku-kukunya yang cemerlang. Bentuk siku lengannya indah sekali. Dan mataku langsung menyimpan memori tentang warna kulitnya yang tampak seperti es krim cokelat. Begitu menggiurkan.

Saat itu juga kubayangkan bagaimana seandainya jika es krim cokelat yang kujilati itu mencelomoti bibirku. Kira-kira apa yang akan dilakukan Rafi? Apakah ia akan membersihkan celemotan di bibirku itu dengan bibirnya?

Aiiii...Tiba-tiba kurasakan tubuhku terlempar tinggi. Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.

Kenapa sekarang cokelat berubah menjadi merah? Awalnya merah muda, merah dadu, lalu...bulan menghilang...

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing bu yi

Wo de qing bu yi

Wo de ai bu bian

Yue liang dai biao wo de xin

Tato

Lin masih belum juga datang sementara hujan semakin deras. Mendadak aku cemas ketika menyadari Lin sama sekali belum mengirim SMS. Apakah Lin tersesat karena sinar bulan menghilang?

Lin

Merah.

Tato

Biji-biji hujan tempias di lantai studio sampai menjadi genangan bercak. Aku terkejut ketika ada butir-butir yang memerciki kanvasku sehingga melembab. Tetapi aku yakin itu bukan karena pulasan kuasku. Angin kian menerbangkan basah.

Aku seperti mendengar suara Lin, ''kalau jatuh cinta itu merah muda, lalu apa warna patah hati?''

Aneh, bukankah seharusnya yang kudengar adalah suara hujan?

Ah, itu dia Lin!

Aku melihatnya sedang berusaha menerabas hujan. Tetapi tetap saja tirai basah itu tidak bisa ditembusnya. Ia menguakkan selapis tetapi sebelum ia keluar dari sana, selapis yang lain sudah menimpanya lagi.

Tubuhnya kuyup. Matanya sayup. Suaranya surup...

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Ni qu xiang yi xiang

Ni qu kan yi kan

Yue liang dai biao wo de xin

''Patah hati tidak pernah dilukiskan. Tidak ada yang suka mengalami patah hati. Eh, siapa yang sedang patah hati?'' sahutku sambil berusaha menerka kegilaan apalagi yang akan didongengkan Lin.

''Aku,'' itu suara hujan atau suara Lin?

''Kau?'' aku kian meragukan pendengaranku. ''Kau tidak tampak seperti patah hati. Orang patah hati tidak pernah memberikan pengumuman kalau ia sedang patah hati. Dan hanya perempuan tidak tahu malu yang melakukan itu,'' sahutku sambil berusaha menyakinkan diri bahwa aku sedang berbicara dengan Lin.

''Itu karena aku sudah profesional mengelola rasa patah hatiku. Sama profesionalnya seperti ketika aku jatuh cinta,'' jawabannya membuatku merasa cacat di otaknya semakin sulit untuk disembuhkan.

''Patah hati kepada siapa?''

''Rafi.''

''Shah Rukh Khan itu?!'' aku tersengat. Oh, Lin...

''Bagaimana kalau patah hati dilukiskan dengan warna hijau?'' Ia menyergah tanpa ada rona merah lagi di pipinya. Aku melihatnya bergelombang. Ia ada di balik hujan rapat yang disapu angin.

''Lin, hijau itu untuk daun, untuk rumput, untuk padi, untuk kehidupan...''

Kucoba mencolek sedikit warna hijau untuk menyempurnakan tetes-tetes air di atas kanvas merah.

Untuk Lin. Untuk Rafi. Untuk kehidupan.

Lin

Tato tidak percaya ketika kuceritakan bahwa aku sedang patah hati. Ia bahkan tertawa sambil memelintir rambut gondrongnya yang dikepang kecil-kecil. Ia gembira seperti sedang mendengar kelanjutan novelku untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya.

''Rafi mencampakkan diriku seperti sampah,'' aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Tato. Aku tidak mau ia melukis warna air mataku.

''Wah, segitu amat? Memangnya kau dihamili Rafi?''

''Masalahnya, justru aku belum dihamili Rafi! Seandainya aku sudah dihamilinya tentu ia tidak akan setega itu,'' tiba-tiba aku tersakiti ketika mengatakan hal itu.

Aku mau mati saja.

Tato

Hijau.

Lin

Aku tidak tahu sekarang terjebak di mana. Yang kutahu, sekujur diriku dibasahi merah. Hei...apa itu yang sedang menetes?

Tato

Aku seperti mendengar Lin sedang menceritakan sebuah episode baru tentang patah hati. Rafi yang digilainya setengah mati itu membuangnya seperti ingus. Aku senang mendengar bagian cerita ini. Setidaknya ini bukan cerita merah muda yang berbunga-bunga lagi.

''Apakah kau sudah yakin kalau sekarang Rafi tidak mencintaimu lagi? Atau dulu kau saja yang terlalu yakin kalau Rafi mencintaimu?'' Aku membutuhkan kepastian Lin untuk menyelesaikan lukisanku. Bukankah sebuah novel pun harus mempunyai akhir?

Tetapi Lin seperti tahu apa yang kupikirkan.

''Sebuah cerita tidak harus diakhiri dengan titik. Sebuah cinta juga tidak harus dipastikan seperti apa.''

''Kalau begitu, kenapa Rafi meninggalkanmu?'' mendadak aku ingin tahu. Bukankah semua sebab selalu menimbulkan akibat. Dan segala akibat selalu didahului oleh sebab.

''Karena Rafi menyamakan perasaanku seperti baju safari. Aku tidak menyangka ternyata ia menghargai perasaanku semurah itu. Jadi sekarang ia sibuk mempertuhankan baju safari dan mempersetankan diriku.''

Astaga! Cerita gilanya yang mana lagi ini?

Aku meyakini bahwa hidup memang penuh pilihan. Seperti aku memilih menjadi pelukis dan Lin memilih menjadi pengarang. Lalu ada yang lain memilih jadi wali kota, gubernur, menteri, presiden atau politisi. Itu pilihan yang sama terhormatnya dengan memilih jadi guru, wartawan, pedagang kelontong, seniman atau petani. Karena manusia harus memilih salah satu di antaranya. Kalau tidak, maka hidup yang menentukan pilihan untuk manusia. Dan manusia harus sama-sama menangis ketika merayakan kegagalan dan keberhasilannya. Kurasa karena alasan itu, Tuhan menciptakan air mata untuk manusia.

Tetapi bagaimana dengan pilihan-pilihan Lin?

Shah Rukh Khan atau Rafi?

Baju safari atau Lin?

Astaga...Pilihan-pilihan model apa itu?

Terus terang saja, aku tidak bisa menakar seberapa berharganya Rafi untuk Lin. Aku juga tidak tahu di sekat sebelah mana Lin menyembunyikan Rafi. Tetapi Lin meratapi Rafi seperti menangisi kecupan hujan untuk bangkai-bangkai bunga yang akan membusuk hari ini. Lin membuatku teringat kata-kata pujangga lama, ''hujan tercipta dari air mata cinta.'' Andaikan saja Rafi mengerti jika air mata Lin begitu mistis, apakah ia masih menyamakan Lin dengan baju safari yang juga banyak digelar di pasar loak?

Uuuffff... tetapi kupikir dalam episode ini ada baiknya juga jika Rafi melepeh Lin. Apa yang bisa diharapkan Rafi dari perempuan yang tidak bisa bangun pagi itu? Tidak ada. Dan aku tahu pasti kalau Lin tidak pandai membuat kopi. Lin cuma bisa menjadi tukang dongeng sambil menggigiti tepi-tepi kukunya. Lin lebih menyerupai tikus betina yang mengerikiti remah-remah makanan. Bukan karena ia kelaparan. Melainkan karena takdir binatang pengerat seperti tikus adalah mengerikiti.

Sssttt... aku tidak sampai hati mengatakannya terus terang pada Lin. Sebab aku melihat setetes sakit menggelinding dari matanya. Dengan cepat dihapusnya sebelum sakit-sakit yang lain susul-menyusul rontok dari sana. Diam-diam, aku sempat melihat apa warnanya.

Lin

Aku ingin menyakinkan Tato bahwa yang kukatakan padanya adalah sebuah kejujuran. Bukan sekadar cerita karanganku. Maka kukibaskan seluruh basahku sampai Tato terkejut ketika melihat sebagian kanvasnya terciprati olehku.

Ada bercak hijau di atas merah seperti hujan di atas ciuman.

Qing qing de yi ge wen

Yi jing da dong wo de xin

Shen shen de yi duan qing

Jiao wo si nian dao ru jin

''Lin...apakah kita berpakaian atau tidak saat berciuman di bawah hujan?'' Aku tak akan pernah bisa melupakan suara Rafi. Suaranya kuingat baik dalam keadaan bangun, tidur, atau mimpi. Karena kalaupun saat ini aku sekarat, hanya suara Rafi yang bisa memanggilku hidup kembali. ***

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)

*) Lan Fang , tinggal di Surabaya. 
Sumber Jawa Pos